Kamis, 28 Maret 2013

CERPEN Sumpah Pemuda


Sumpah Pemuda

Sebentar lagi sekoah kami memperingati Sumpah Pemuda. Kegiatan apa yang akan diadakan oleh sekolah? Kami sudah terbiasa menaruh perhatian besar tehadap peringatan hari-hari bersejarah ini. Pak Winata dan Pak Sudarma selalu membina kami untuk dapat menghayati peristiwa-peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Berbagai cara dan kegiatan diadakan. Tujuannya tiada lain agar kami denagan usaha sendiri dapat merasakan perjuangan bangsaku tercinta ini dari masa ke masa.
“Sudah kau baca Jaka, koran tadi pagi yang menyangkut Sumpah Pemuda?” tanya Mutia kepadaku.
“Sudah, tetapi belum selesai membacanya. Ayahku ingin membacahya terlebih dahulu!”
Kawan-kawanku sebagaian besar sudah bisa membaca koran atau majalah. Segala berita yang sedang hangat-hangatnya selalu dijadikan obrolan untuk pengisi waktu. Begitu juga pagi ini kami sudah selesai dengan tugas membersihkan kelas. Waktu yang terulang masih ada seperempat jam lagi. Mutia, Sudarto, Hilman, Yazir, Yusuf dan Halimah berkumpul untuk turut bercakap-cakap denaganku. Kami berdiri sambil menikmati udara pagi yang segar.
Obrolan kami berkisar antara Sumpah Pemuda dan diselilingi dengan mepersoalkan pelajaran-pelajaran lainnya. Kami merupakan murid kelas VI yang paling giat bersemangat dalam berbagai kegiatan di sekolah.
“He, lihat itu si Tambun baru muncul!” kata Sudarto sambil menunjuk kepada Zulkarnaen.
“Selamat pagi, kawan-kawan!” salam Zulkarnaen.                           “Selamat Pagi, Tuan Besar!”sambut kami.                                                
  “Wah, tadi di jalan lalu-lintas macet! Ada anak SMA yang ngebut dan bertabrakan dengan sebuah sedan!”
“Ngebut lari ? Atau ngebut naik motor?”                                                       
“Tentunya, naik motor! Masa lari main tabrak dengan sedan. Memangnya mau bunuh diri?”       
             “Kau tahu kalau anak SMA, memangnya kau bantu menolongnya?”
            “Ala, kau ini belum tahu bahwa si Tambun ini orang cerdas, ya? Orang yang berseragam putih-abu itu adalah pelajar SMA! Putih merah itu pelajar SD dari seragamnya saja kita sudah tau siapa dia!”
Percakapan kami terhenti, karena lonceng sudah berbunyi. Selesai berdoa, pelajaran dimulai. Bu Sumarsini mengawalinya, “Tadi, kalian asyik sekali mengobrol. Saya mendengar ada tabrakan segala. Siapa yang tabrakan itu Zul,?”
Secara singkat Zulkarnaen menerangkan menerangkan ihwalnya tadi pagi di jalan.
“Nah, Anak-anak, itulah sebabnya kita harus berhati-hati di jalan. Kita harus mentaati peraturan lalu-lintas. Coba kaubayangkan anak celaka tadi, ya rugi bagi dirinya sendiri, ya rugi bagi orang lain. Untuk dirinya sendiri jelas dia harus masuk rumah sakit. Untung kalau tidak cacat. Bagaimana kalau cacat? Juga dia harus memperbaiki motornya. Kerugian bagi orang lain? Pemilik sedan harus memperbaiki sedannya. Zulkarnaen datang terlambat karena lalu-lintas macet! Seterusnya kalian mmasih dapat mencari sedikit akibat yang ditimbulkan tabrakan tersebut!”
Kami semua diam. Betul juga apa yang dikatakan Bu Sumarni itu. Berbahagialah kami yang sampai saat ini masih selalu mentaati peraturan.
“Anak-anak!” lanjut  Bu Sumarni. “ Ibu kemarin mendaopat pesan dari Pak Sudarma, bahwa dalam pelajaran bahasa Indonesia hari ini diberi tugas membuat karangan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Nanti pada tanggal 28 Oktober tiga karya terbaik akan didiskusikan dikelas di bawah pimpinan Pak Sudirman!”
Tugas ini kami sambut gembira. Kami membayangkan saat aku bediri di depan kelas sedang membacakan karanganku. Yang lain asik mencatat intinya. Aku malah melamun.
“He, Jaka. Kau melamun ya?” Yusuf menepuk pundakku.
“Ah, tidak ... tidak !” Jawabku agak gugup karena terkejut.
Teringat perjalanan bansgsaku dari tahun 1928 sampai generasi sekarang. Masa Indonesia sedang membangun dan mengisi kemerdekaannya.
            “Cukup bahan untuk menyusun tugas ini!” Gumamku dengan rasa lega. Aku sudah dapat menghubungkan diri dan menghayati peristiwa Sumpah Pemuda sampai kini.
            Jam pelajaran Bahasa Indonesia pun berakhir. Karangan kami pun belum selesai. Bu Sumarni memperbolehkan kami menyelesaikan di rumah. “Besok karangan harus dikumpulkan pada Sudarto kata Bu Surmani”
Pelajaran berikutnya adalah PKN. Kali ini Bu Uun membahas materi Sumpah Pemuda. “Materi ini supaya dapat mengingatkan tekad para pemuda pada masa dahulu, kata Bu Uun”. Selama 40 menit kami mendapat informasi tentangjasa dan tekad para pemuda.
Ke esokan harinya kami memperingati hari Sumpah Pemuda dengan Upacara bendera. Seusai Upacara memperingati Sumpah Pemuda. Kami melanjutkan diskusi karangan tentang Sumpah Pemuda bagi anak Indonesia. Diskusi ini dipimpin oleh Pak Sudarman, Pak Winata, Pak  Mansur, dan Bu Sumarni pun telihat menghadiri diskusi itu.
            Dari sekian banyak karangan, karanganku mendapat kehormatan untuk didiskusikan. Selain karanganku ada karangan lain yang didiskusikan, seperti karangan dari Hilman dan Mutia. Waktu Pak Sudarman mengumumkan kami sangat gembira.
            “Hidup Pemuda Indonesia!” Seru Pak Sudarto. Guru kami tersenyum bangga melihat sikap kami demikian itu. Mereka tidak sia-sia membimbing kami selama ini. Kami semua bersungguh-sungguh dan penuh semangat dalam belajar di sekolah ini. Rupanya datang ke sekolah ini merupakan kebutuhan yang sulit di abaikan. Sekolah kami memberi kepuasan dan kesenangan terutama Guru-guru kami yang merupakan pendidik yang dapat menumbuhkan semua rasa senang tadi.
            Diskusi berjalan hangat dan tertib sekali-sekali Pak Winata membantu kami dalama hal yang tidak kami mengerti. Hasil diskusi itu mengagumkan.  Kesimpulan dari diskusi itu antara lain bahwa Sumpah Pemuda  merupakan landasan tekad kami sebagai anak Indonesia untuk membangun Negara tercinta ini.
            “Hidup Pemuda Indonesia!” Bergema kembali pekikan kami mengakhiri diskusi tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar